Pembelajaran Sifat 20 #Keenampuluhsatu
Ketiga telah diketahui pula bahwasanya WAJIB bagi Allah Ta'ala
تنزهه تعالى عن الأغراض في افعاله واحكامه
dan MUSTAHIL pada-Nya lawannya.
Keempat telah diketahui pula bahwasanya WAJIB bagi si baharu tidak memberi bekas dengan thabi'atnya atau dengan kuatnya, dan MUSTAHIL padanya memberi bekas itu.
Kelima telah diketahui pula bahwa wajib
حدوث العالم
sekaliannya maka mustahil qidamnya.
Keenam telah diketahui pula bahwasanya lima puluh aqa-id yang tersebut itu lazim masuknya pada
استغناءه تعالى عن كل ما سواه
وافتقار كل ما عداه اليه تعالى
Ketujuh maka telah diketahui bahwasanya yang HARUS bagi Allah Ta'ala itulah satu jua yaitu
فعل كل ممكن أو تركه
.....maka apabila telah dipaham baik-baik akan sekalian tujuh perkara ini, maka diketahuilah dengan yang demikian itu akan salahnya yang berkata ketika ia membahagi sifat ISTGHNA -IFTIQAR dengan katanya :
" dan masuk HARUS pula lima perkara ".
Maka adalah kesalahan yang amat besar merusakkan aqa'idul iman.
Sebab bahwasanya yang HARUS pada Allah Ta'ala yaitulah SATU JUA
فعل كل ممكن أو تركه
maka yang lainnya tiada.
Keterangan :
Pengistilahan harus dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Arab.
Kata HARUS pada bahasa Indonesia mengarah pada upaya penekanan atas suatu ketetapan hingga setara dengan wajib dalam hukum syar'ie.
Adapun HARUS pada bahasa Arab dan yang terkait pada hukum aqli berma'na :
"sesuatu yang akal menerima dua hal yang berlawanan, bisa ia bisa pula tidak".
Dan HARUS ketika terkait dengan hukum syar'ie berma'na :
"sesuatu yang tidak berpahala tidak pula berdosa, baik dikerjakan ataupun ditinggalkan".
Ini perlu perhatian !
Komentar
Posting Komentar